Jumat, 24 September 2010

PEMBINAAN IMAN ANAK DALAM KELUARGA KRISTIANI






BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penulisan
Manusia pada zaman sekarang hidup dalam peradaban yang serba baru dan mengalami tekanan akibat kemajuan dan modernisasi di berbagai aspek kehidupan. Komunitas manusia dalam hidup bermasyarakat dipengaruhi kuat oleh pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta dinamika budaya yang mendorong lahirnya pola-pola budaya baru. Pola budaya yang baru merupakan produk langsung dari bercampurnya bermacam budaya dalam satu komunitas masyarakat yang berinteraksi. Hal ini mendasari lahirnya pola-pola hidup yang baru pula.

Hedonisme tampak semakin menjadi pola hidup insani modern. Hidup mewah tanpa kekurangan apapun menjadi tujuan akhir. Kemiskinan dan kekurangan menjadi momok yang sangat menakutkan. Keserakahan dan egoisme telah merasuki masyarakat. Orang mulai meragukan nilai-nilai spritual dan kekerabatan luhur dan beralih pada nilai pragmatis, individualistis dan materialistis.
Kejadian ini membawa dampak yang sangat besar bagi kehidupan dan keutuhan keluarga terutama anak. Kemungkinan besar anak tidak lagi mendapat perhatian, kasih sayang dan pembinaan yang semestinya. Orangtua sibuk dengan pelbagai aktivitas, kegiatan dan bisa terjebak dengan anggapan bahwa dengan uang segala permasalahan dapat terselesaikan. Orangtua telah merasa puas jika dapat memenuhi seluruh kebutuhan material anak dan beranggapan bahwa pembinaan iman anak-anak adalah tugas guru dan pemimpin jemaat.

Sikap orangtua yang demikian bisa membawa akibat buruk bagi kehidupan iman anak. Anak-anak mungkin tidak lagi meminati hal-hal yang bersifat religius tetapi beralih ke hal-hal yang bersifat profan. Akibatnya anak mudah dipengaruhi oleh lingkungan yang tidak sehat. Bila pembinaan anak dari dasar kurang diperhatikan dengan baik, dasar-dasar pokok yang seharusnya mereka pegang atau mereka kuasai sebagai orang kristen tidak mereka dapatkan.

Penulis tertarik membahas masalah ini dan menuangkannya dalam karya tulis, sekaligus menjadi latar belakang penulisan ini. Penulis mau mengajak orangtua untuk merefleksikan tugas dan panggilan keluarga kristen dalam hidup pembinaan iman anak. ”Orangtua adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Tugas suami-istri dan keluarga adalah melayani kehidupan. Maka keluarga dapat disebut sekolah kemanusiaan”.

Dewasa ini orangtua kristen ditantang untuk lebih peka lagi memperhatikan pembinaan iman anak dalam semua aspek hidup agar anak tetap yakin dan percaya serta mampu merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup sehari-hari. Dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK), ditegaskan betapa penting peranan orangtua kristen dalam pembinaan iman anak. Orangtua ”melebihi semua orang lain berkewajiban untuk membina anak-anak mereka dalam iman dan dalam praktek kehidupan Kristiani baik lewat kata maupun lewat perbuatan mereka”

1.2 Perumusan dan Pembatasan Tema
Keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak dibentuk dalam iman yang hidup dan aktif. Anak ketika dibaptis memperoleh kekuatan iman, namun pada baptisan masa kanak-kanak belum memberikan kesadaran iman yang penuh. Maka iman anak harus dibina secara intensif dalam keluarga sejak dini. Di dalam keluarga iman mulai merekah. Kesan-kesan yang diperoleh anak tentang iman kristiani sangatlah penting. Penulis melihat pembinaan iman anak sejak dini dalam keluarga merupakan hal yang sangat potensial, karena dalam keluarga banyak waktu anak dalam kehidupannya bersama orangtua. Maka tidak mengherankan jika keluarga merupakan tempat pembinaan iman anak yang sangat fundamental. Kebanyakan anak yang hidup rohaninya baik dan berkembang berasal dari keluarga yang juga hidup rohani diutamakan.

Penulis memilih katekese keluarga: Pembinaan Iman Anak Dalam Keluarga Kristen, dengan berbagai alasan. Pertama, pembinaan iman anak dalam keluarga merupakan hal yang sangat fundamental bagi kehidupan iman anak. Kedua, orangtua adalah pembina iman yang pertama dan utama. Ketiga, kami melihat masih begitu budaya orangtua kristen yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya sampai tidak lagi memperhatikan kehidupan iman anak-anaknya. Oleh sebab itu dibutuhkan berbagai upaya, baik oleh Gereja sebagai kuasa mengajar iman maupun oleh para petugas pastoral yang ada dan hidup di tengah-tengah masyarakat.

1.3 Tujuan Penulisan
Melalui karya tulis ini, penulis berusaha memberikan sumbangan bagi refleksi orangtua dalam hal pembinaan iman anak, yang bukan hanya semata-mata urusan guru agama dan pembina agama dan pemimpin jemaat melainkan pertama dan terutama tugas kita bersama sebagi umat beriman. Tugas ini juga dibuat untuk memenuhi persyaratan dalam mengakhiri kuliah program Strata satu (S-1) pada Fakultas Sekolah Tinggi Pastoral STP Santo Bonaventura Keuskupan Agung Medan (KAM).

1.4 Metode Penulisan
Untuk membahas tema makalah ini, penulis menggunakan Metode Kepustakaan (Library Reseach). Penulis memakai berbagai macam buku yang berbicara tentang pembinaan iman dan pertumbuhan serta perkembangan pribadi anak. Setelah membaca buku yang berbicara tentang pembinaan iman anak dan pertumbuhan serta perkembangan pribadi anak, penulis akan menyajikan tema ini secara deskriptif kritis.


1.5 Sistematika Penulisan
Tulisan ini menempuh susunan sebagai berikut: Di awali dengan kata pengantar, halaman abstraksi yang memuat intisari permasalahan, daftar isi, pendahuluan yang memaparkan latar belakang penulisan, perumusan dan pembatasan tema, tujuan penulisan, metode penulisan, sistematika penulisan.

Dalam bab II akan diterangkan beberapa sifat dan perkembangan kepribadian anak dari segi intelektual, sosial, ekonomi dan moral. Dalam bab ini kami juga akan paparkan fase-fase perkembangan anak yang berkaitan dengan tugas pembinaan iman anak dalam keluarga. Orangtua sebagai pembina perlu mengerti perkembangan pribadi anak dalam hidup sosialnya, sehingga orangtua dapat memahami dan mengenal anak dalam keseluruhan proses pembinaan tersebut. Pada akhir bab II ini akan diketengahkan tahap-tahap perkembangan iman pada masa anak menurut James Fowler.

Dalam bab III akan dipaparkan pembinaan iman anak dalam keluarga kristen, yang diawali dengan pembahasan mengenai pengertian keluarga dan pengertian pembinaan iman anak serta pembinaan iman anak dalam keluarga. Bab ini kemudian membahas mengenai tahap pembinaan iman anak, yang diantaranya dibahas mengenai tahap proyektif-intuitif, tahap mistik literal dan tahap tiruan. Sub pokok bahasan selanjutnya didalami mengenai tujuan pembinaan iman anak, yang diantaranya adalah sebagai satu proses sosialisasi dan tanggapan terhadap dialektika pribadi anak dengan lingkungannya. Bagian penutup dari bab ini membahas lebih lanjut mengenai keluarga kristen pada umumnya untuk menjadi dasar acuan dalam pembahasan pada bab selanjutnya.

Bab IV mengemukakan beberapa cara melaksanakan pembinaan iman anak dalam keluarga. Bab ini merupakan inti pembahasan dari tema dan judul skripsi. Oleh sebab itu pada bagian awal, penulis menekankan pembahasan lanjutan mengenai keluarga pada zaman sekarang untuk lebih memperdalam pembahasan mengenai keluarga pada bab sebelumnya. Pembahasan mengenai keluarga pada zaman sekarang dibagi dalam tiga bagian yaitu menurut pandangan Konsili Vatikan II, menurut surat apostolik Paus Yohanes Paulus II (Familiaris Consortio), tentang keluarga pada zaman modern dan diakhiri dengan memberikan beberapa latar permasalahan yang dihadapi pada zaman sekarang sehubungan dengan pembinaan iman anak dalam keluarga. Pada tahap selanjutnya dalam bab ini dibahas mengenai salah satu upaya peningkatan pembinaan iman anak dalam keluarga dengan membina komunikasi bersama Gereja. Komunikasi tersebut dapat dilakukan baik dalam peran persekutuan, pewartaan, kesaksian ataupun pelayanan. Bagian selanjutnya dalam bab ini juga membahas mengenai membina komunikasi internal keluarga, yakni komunikasi yang saling memahami dan saling menghormati, saling melengkapi dan saling berbagi. Kemudian dalam tahap selanjutnya dibahas mengenai upaya meningkatkan iman anak dalam peran serta personal, seperti melalui kegiatan gerejani, melalui sekolah katolik ataupun dalam doa-doa dan devosi keluarga. Bab ini kemudian diakhiri dengan penjabaran mengenai situasi pembinaan iman anak dalam lingkup milenium ketiga pada khsusunya dan hal-hal yang semestinya menjadi pusat perhatian dalam pembinaan anak di masa mendatang.

Bab V merupakan penutup yang akan berisi kesimpulan dari keseluruhan penjabaran tema pokok skripsi, yang ditambah dengan refleksi kritis sehubungan dengan pembinaan iman anak yang telah dilakukan pada zaman sekarang pada umumnya. Bab ini kemudian diakhiri dengan beberapa saran dari penulis berkaitan dengan upaya yang hendak dilakukan sehubungan dengan pembinaan iman anak dalam keluarga kristen pada masa mendatang.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar